8 Kali di Tolak RS, Bayi BPJS Meninggal

By | 13 Juni 2017

Diskriminasi Pelayanan bpjs

Diskriminasi Pelayanan bpjs

Bekasi , kabar duka kembali mewarnai bulan suci ramadhan ini sekaligus menambah daftar panjang kasus diskriminatif yang di alami para peserta BPJS Kesehatan dalam mendapatkan layanan.
Meski BPJS Kesehatan sendiri tengah mengklaim tingkat keluhan peserta terhadap pelayanan BPJSkes semakin menurun yang mengindikasikan adanya peningkatan kepuasan peserta,namun tetap saja masih ada peserta yang menjadi korban ketidak adilan di negri merah putih ini.

Ya hal ini seperti yang di alami Hari kustanti 41 tahun warga bekasi yang harus berkeliling ke-8 Rumah Sakit di bekasi dengan harapan mendapatkan penanganan dari salah satu rumah sakit tersebut.

Namun sayang upaya tersebut nihil alias tidak membuahkan hasil yang mengakibatkan warga perumahan pejuang pratama ini harus merogoh koceknya sendiri untuk mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Koja Jakarta utara.

Bapak empat anak ini terpaksa harus menelan kenyataan pahit anak ke-empat yang seharusnya bisa lahir serta mendapatkan penyelamatan harus menghembuskan nafas terakhir tanpa sempat melihat dunia.

Suami reni wahyuni inipun mengungkapkan kekecewaannya atas rumitnya mendapatkan akses kesehatan di bekasi padahal sudah mengantongi Kartu BPJS Kesehatan.


Artikel Terkait (Membuat bpjs)

“Jangan ada lagi nasib seperti saya. Istri sekarang masih kritis,” ungkap hery seperti yang BPJS Online kutip dari metrotvnews

ads

Kini ia hanya bisa pasrah menerima kenyataan bayinya tidak bisa di selamatkan dan bahkan ia masih dalam kondisi was-was lantaran keadaan istrinya yang masih kritis.

Ironi sekali 8 RS hanya mendapatkan jawaban “ICU Penuh” , tanpa ada sebuah upaya apapun untuk menyelamatkan nyawa ibu dan bayi ini. 

Petugas BPJS Kesehatan mana upayanya ?seharusnya bisa berperan aktif mencari informasi dimana diseluruh rumah sakit jaringan yang telah bekerjasama yang masih tersedia ruang ICU kosong. 

Bukankah setiap RS ada telpon tinggal menghubungi satu-satu,ketimbang membiarkan keluarga ini pontang panting menghabiskan waktunya di jalan yang sebenarnya bisa di manfaatkan tuk memberikannya penyelamatan.

Jika sudah viral seperti ini masing – masing seolah jadi pahlawan kesiangan menjadi peduli namun tanpa disertai tindakan perbaikan dalam layanan.

Salam telat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *