Beli Rokok bisa Bayar BPJS Ngeles

By | 22 Agustus 2016

Saat ini sedang marak di perbincangkan wacana pemerintah menaikkan cukai tembakau, hal ini tentu berimbas terhadap harga rokok yang nantinya bisa sampai sekitar 50.000 per bungkusnya.
hal tersebut memancing beragam respon dari berbagai pihak baik itu yang Pro maupun yang kontra.

Bagi yang kontra terutama dari pihak – pihak yang memiliki kepentingan atas industri rokok melakukan berbagai upaya agar wacana ini tidak di realisasikan.
berbagai statement hingga ancaman PHK besar – besaran di lontarkan sejumlah pihak melalui media – media publik.

dan BPJS Kesehatan ikut terbawa dalam rumor yang berhembus di masyarakat ini lantaran pernyataan dari anggota DPR RI komisi IX dede yusuf yang menyatakan kenaikan cukai tembakau akan di konversi ke Jaminan Kesehatan.

‎”Cukai yang didapat nantinya dikembalikan ke kesehatan, untuk pengembangan BPJS, kita kan sangat butuh. Itu usulan kami, memang belum dibahas,” tandasnya.

Ketua Komisi IX Isyaratkan Sepakat Kenaikan Harga Rokok Rp50 Ribu

ads

terlepas benar atau tidaknya jika kita cermati polemik ini pihak yang menentang seolah – olah rokok merupakan penolong bagi petani tembakau serta buruh pabrik padahal itu sebagian kecil saja keuntungan terbesar adalah untuk pemilik pabrik.


Artikel Terkait (Kena PHK Bagimana Nasib Iuran BPJS BPU)

mereka lupa jika penentu rejeki itu bukan industri rokok. manusia di bekali ilmu dan akal ketika sebuah ladang usaha sudah tidak menjanjikan lagi maka manusia akan beralih ke bidang usaha lain.

lagi pula proses menurunnya daya beli itu tidak serta merta langsung begitu saja karena rokok cuma di naikkan cukainya bukan dilarang, jadi perlu waktu berbulan – bulan penurunan jumlah konsumsi rokok sehingga ada kesempatan untuk beralih ke mata pencaharian lain.


“harga rokok yang mahal akan menurunkan daya beli masyarakat, terutama perokok. Setelah itu, industri rokok akan menurunkan jumlah produksi rokok dan berujung ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran. “Apalagi, 80% pekerja di industri rokok adalah outsourcing yang sudah puluhan tahun bekerja dan rentan PHK” salah satu pernyataan pihak yang kontra.

mereka selalu memoles racun menjadi sosok pahlawan penolong bagi rakyat kecil ,mereka lupa 5 juta orang mungkin di untungkan oleh rokok namun 90 juta jiwa penduduk indonesia menjadi pecandu dan indonesia menempati perokok terbanyak di dunia.

Jumlah Perokok di Indonesia Nomor Satu Dunia

apakah kita biarkan ? kalau kita hanya melihat dari sisi lapangan pekerjaan G*nja pun jika di legalkan juga bisa membuka lapangan pekerjaan namun akankah kita mengorbankan generasi muda.

kenaikan cukai tembakau bukan sebuah kiamat yang harus di besar -besarkan kecuali penutupan pabrik rokok skala nansional boleh penggiat rokok heboh kehilangan mata pencaharian.

semoga pemerintah tidak menunda – nunda wacana tersebut untuk menunggu lobi dari pengusaha rokok tapi langsung memutuskan dengan pertimbangan kesehatan masyarakat.
karena sangat di sayangkan jika BPJS kesehatan gencar kampanye pentingnya menjaga kesehatan sepi tidak ada peserta.

sementara disebelah promosi rokok berjubel dengan memanfaatkan artis -artis populer dengan anggaran milliaran.

dua orang menjaga kesehatan akan percuma jika tinggal serumah dengan 1 orang perokok.

semoga kenaikan cukai rokok bukan sekedar heboh untuk pengalihan isu perpanjangan kontrak freepot dan kemudian hilang begitu saja.

Menjaga Kesehatan itu murah , merusak kesehatan itu mudah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *