BPJS Kesehatan curi Perhatian Dunia melalui ISSA

By | 1 Desember 2016

Fachmi Idris in ISSA Forum

Fachmi Idris in ISSA Forum

Panama 14 November 2016 BPJS Kesehatan kembali mengukir prestasi melalui kancah yang di selenggarakan ISSA ( International Social Security Association ) yang bertajuk Foro Mundial De La Seguridad Social atau dalam bahasa inggrisnya World Social Security Forum.

Sebagai lembaga negara yang kini telah menginjak usia ke-3 BPJS kini telah memiliki jumlah anggota sebesar 170 juta peserta.

program ini di respon positif di mata dunia lantaran perkembangan program dari pemerintah JKN-KIS yang meluncurkan dua program jaminan sekaligus BPJS-Kesehatan dan BPJS-Ketenagakerjaan.

ads

yang mana kedua program tersebut berkembang sangat pesat.

untuk JKN-KIS sendiri kini telah mengcover hampir 67.6% dari seluruh penduduk indonesia dibandingkan jerman yang membutukan 120 tahun belgia 118 tahun untuk mencapai 100% penduduk.

di tengah beragam terpaan isu tidak sedap perihal adanya faktor defisit anggaran yang terjadi , direktur BPJS-Kesehatan tetap optimis lambat laun akan mampu terhindar dari masalah defisit anggaran seiring kesadaran masyarakat dalam membayar premi iuran.


Artikel Terkait (CARA MENDAFTAR BPJS BILA ADIK (KARTU KELUARGA SAMA) SUDAH TERDAFTAR)

di dalam kesempatan tersebut Fachmi Idris berkesempatan hadir sebagai panelis yang memberikan pemaparan Dalam topik Access to Health and Universal Health Coverage.

BPJS Kesehatan yang kini menjelma menjadi lembaga pengelola program jaminan kesehatan terbesar di dunia semakin kuat dalam menghadapi tantangan – tantangan seperti kesenjangan atau gap dari sisi cakupan kepesertaan, finansial, serta kualitas pelayanan kesehatan.

“Pemerintah telah banyak berkontribusi menjaga keberlangsungan program JKN-KIS, salah satunya dengan membiayai pegawai dan masyarakat yang tidak mampu. Namun keberlanjutan program ini tak lepas dari peran masyarakat dari sektor informal yang sehat, produktif, dan mampu. Sayangnya, partisipasi masyarakat dari kalangan tersebut belum maksimal. Inilah yang disebut sebagai ‘The Missing Middle‘,” kata Fachmi yang kami kutip dari detik.com .

BPJS-Kesehatan juga berupaya memangkas teknik pendaftaran peserta yang hingga saat ini masih dinilai cukup lama dengan membangun sistem e-dabu agar pekerja penerima upah yang biasanya enggan mendaftar lantaran tidak memiliki cukup waktu , hingga sudah memiliki asuransi lain bisa tertarik menjadi peserta BPJS Kesehatan.

selain dari sistem BPJS Kesehatan juga membuka pintu untuk perusahaan asuransi swasta untuk bekerjasama melalui mekanisme COB ( Coordination of Benefit ).

sementara itu untuk mencegah adanya defisit akibat tidak seimbangnya penerimaan iuran dengan pengeluaran BPJSKes telah menerapkan pembayaran 1 KK , dimana peserta harus membayar iuran keseluruhan keluarga yang masuk dalam 1 kartu keluarga.

“Selanjutnya, sebagai salah satu upaya untuk mengatasi gap dalam kualitas pelayanan kesehatan, kami telah menciptakan aplikasi Health Facility Information System (HFIS), dimana calon fasilitas kesehatan yang ingin bekerja sama dengan BPJS Kesehatan dapat mendaftar serta memantau progress-nya via online. Selain itu, ke depannya kami juga berupaya menyempurnakan penerapan kebijakan pembayaran berbasis komitmen di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama,” tambah Fachmi Idris.

Melalui sejumlah alternatif solusi tersebut, diharapkan keberlanjutan program JKN-KIS dapat terjaga hingga kelak mencapai cakupan kesehatan semesta di tahun 2019. Fachmi pun berharap, ISSA dapat menyediakan bantuan secara berkesinambungan untuk mengatasi kesenjangan yang terjadi dalam pengelolaan jaminan kesehatan di Indonesia, khususnya dalam hal mengatur biaya dan kualitas pelayanan kesehatan. (dna/dna)

edit By BPJS Online

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *