Dilema Sistem Rujuk BPJS Kesehatan

By | 26 April 2016

sistem rujuk BPJS Kesehatan

sistem rujuk BPJS Kesehatan

Sistem rujuk berjenjang yang di anut oleh BPJS Kesehtaan merupakan metode filter untuk mencegah membengkaknya Klaim Oleh Faskes yang bekerjasama. Namun sistem rujuk BPJS Kesehatan tersebut di anulir tidak efektif dan memberikan dampak yang buruk bagi Peserta.

Hal ini terkait Filter yang terlampau ketat dari pihak Faskes Tk 1 yang mengakibatkan peserta sulit memperoleh rujukan ke Faskes TK II sebelum faktor dan Kondisi memenuhi syarat untuk mendapat rujukan.

contoh kasus yang BPJS Online kutip dari halaman Bisnis.com dimana seorang pasien peserta BPJS Kesehatan yang bernama shahnaz yusuf yang berusia 26 tahun ini sudah hampir satu bulan menderita gejala penyakit langka dimana ia bisa secara tiba – tiba terserang demam pada waktu – waktu tertentu saja. nafsu makan juga menghilang dan ia hanya nyaman ketika tidur dengan psosisi terlentang. kondisi tersebut diperparah ketika ia mencoba menapakkan kakinya di lantai maka rasa ngilu akan menyerang ke seluruh tubuhnya.

Gadis kelahiran medan ini mencoba mencari solusi atas penyakit yang dideritanya dengan berbekal kartu BPJS Kesehatan yang dimilikinya iapun mendatangi puskesmas tanah abang, seperti dugaanya dokter tidak mampu mendiagnosa penyakit apa yang kini telah di deritanya. shahnazpun hanya mendapatkan sejumlah obat untuk diminumnya.

ads

Bukannya kesembuhan yang di dapatkan kondisinya justru semakin memburuk , obat yang diberikan dokter tersebut telah habis di minumnya namun tak memberikan perubahan apapun. khawatir semakin parah shahnaz pun berinisiatif berobat ke klinik swasta dengan biaya sendiri. dengan sejumlah tes laboratorium ia pun kaget mengetahui hasilnya dimana kadar hemoglobin (HB) miliknya hanya 8 gr/dl. Ini jauh lebih rendah ketimbang standar wanita normal yang mencapai 12-16 gr/dl.

meskipun demikian lagi – lagi sang dokter tak mampu memberikan kepastian penyakit apa yang diidapnya kini , ia justru diminta untuk berobat ke spesialis penyakit dalam.


Artikel Terkait (TAGIHAN & DENDA DIKIRIM)

dengan berbekal hasil tes tersebut shahnaz kembali mendatangi puskesmas tanah abang. meski dokter mengaku prihatin atas kondisi tersebut namun ia masih enggan memberikan rujukan ke Faskes Tk II , dengan dalih kadar hemoglobinnya masih 8 sesuai aturan Sistem rujuk BPJS Kesehatan bisa memperoleh rujukan apabila kadar HB dia mencapai 7.


“Kadar HB 8 ini memang sudah rendah banget tetapi menurut aturan, pasien baru bisa dirujuk jika HB sudah mencapai 7,” begitu ucapan dokter yang diingatnya.

dengan perasaan sedih shahnazpun pulang tanpa mendapatkan surat rujukan ,karena masih harus menunggu kondisinya lebih parah baru bisa memperoleh rujukan ke dokter spesialis. padahal sebagai peserta mandiri ia rutin membayar iuran setiap bulannya namun pelayanan yang ia dapatkan sungguh mengecewakan.

semakin hari kondisinyapun semakin buruk , tak tahan dengan itu ia pun memutuskan untuk mendatangi dokter spesialis di RS Angkatan Laut Mintohardjo. sang dokterpun menyarankan rawat inap karena harus menjalani sejumlah tranfusi darah namun shahnaz keberatan atas saran tersebut karena tidak cukup biaya untu rawat inap. beruntung sang dokter membuatkan surat rekomendasi agar pihak puskesmas mau mengeluarkan surat rujukan.

“Kalau menunggu HB saya sampai 7, dokter bilang akibatnya akan fatal,” ungkapnya.

Dilema Faskes Tk 1 bila terlalu mudah memberikan Rujukan

pasien shahnaz beruntung atas inisiatifnya mendatangi dokter spesialis bisa mendapatkan surat rujukan yang di harap-harapkannya.

tentu tidak semua pasien BPJS Kesehatan bisa seperti itu ,apalagi bagi mereka yang tinggal di daerah pelosok dan dokter di faskes TK 1 tetap pada pendiriannya menunggu kondisi parah untuk memperoleh rujukan lantas siapa yang di salahkan ?

Menurut Koordinator Advokasi BPJS Watch Timboel Siregar, kemunculan kasus seperti ini disebabkan oleh ketakutan tenaga medis di fasilitas kesehatan (faskes) pertama terhadap teguran BPJS Kesehatan.

BPJS Kesehatan menganggap membludaknya pasien di Faskes TK II di sebabkan terlalu mudahnya dokter di faskes Tk 1 mengeluarkan surat rujukan.

“Data 2014-2015 memang menunjukkan di Sumatra Utara dan Aceh lebih dari 50% pasien tingkat pertama diberi rujukan meskipun penyakitnya bisa ditangani di faskes I,” katanya saat dihubungi Bisnis, Kamis (21/4/2016).

meskipun demikian pihak BPJS Kesehatan seharusnya senantiasa memantau faskes tingkat 1 tersebut untuk memberikan pengobatan serta pelayanan terbaik sehingga pasien tidak perlu mendapatkan rujukan karena telah sembuh di tangani faskes tk 1, bukan karena menunggu kondisi parah sehingga tidak ada kesan faskes Tk 1 tidak melakukan upaya apapun terkecuali menunggu pasien lebih parah kondisinya untuk di buatkan surat rujukan.

menurut timboel jika sistem rujukan dibuat terlalu ketat dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pasien tetapi juga BPJS itu sendiri.

“Kalau sudah terlambat baru dirujuk, otomatis biaya pengobatannya jadi lebih mahal kan,” paparnya.

Menurut Timboel, hal ini sebenarnya bisa dihindari jika pemerintah memberikan standarisasi yang jelas terhadap setiap tenaga medis . Selain itu, peran komite pengendalian mutu juga harus ditingkatkan agar dokter tidak hanya mengandalkan subjektivitasnya.

Kepala Departemen Manajeman Manfaat dan Kemitraan Faskes BPJS Kesehatan Sri Mugi Rahayu mengatakan penanganan faskes merupakan kewenangan Kementerian Kesehatan.

Dalam hal ini BPJS hanya menyelenggarakan jaring pengaman kesehatan sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kalau urusan diagnose silakan tanya ke dokternya langsung,” katanya.

Menurutnya, pemerintah sebenarnya sudah memberikan standar diagnosa yang seharusnya bisa diselesaikan di faskes tingkat 1.

Jika jangka waktu sakit atau telah terjadi komplikasi, pasien bisa meminta surat rujukan.

Mugi juga menyarankan kepada pasien agar mengajukan pemindahan faskes jika tidak puas dengan faskes tingkat satu yang sudah dipilih.

Jawaban Mugi memang tidak memberikan kepastian terkait kasus yang dialami Shahnaz.

Saat menjalani perawatan di RS Mintohardjo, Shahnaz bahkan harus menginap di kamar kelas 2 meskipun setiap bulan membayar premi untuk kelas 1.

Kita mengenal idiom ‘kesehatan mahal harganya’. Hari ini ketika kesehatan sudah ‘lebih murah’ karena sistem jaminan kesehatan nasional, haruskah pasien yang dikorbankan?

demikian artikel perihal sistem rujuk BPJS Kesehatan yang kami kutip dari bisnis.com dengan beberapa perubahan.

Baca selengkapnya: Relawan » sistem rujukan BPJS yang wajib diketahui

 

 

 

Yang di Cari:

  • cek bpjs rujuk online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *