Jalan sulit mengatasi defisit

By | 3 Oktober 2017

Koin bpjs kesehatan

Koin BPJS Kesehatan

Hampir stiap akhir tahun seringkali kita dengar terjadi Defisit pada lembaga BPJS Kesehatan.

Bahkan di tahun ke-3 beroperasi BPJS Kesehatan masih mengalami hal serupa sebesar 9 trilliun.

Nilai yang sangat fantastis namun nyata dan harus segera ditemukan solusinya.

ads

Salah satu wacana yang di incar ialah menggunakan cukai rokok guna menutupi defisit tersebut.

“Saat ini sedang dipersiapkan opsi bauran sebanyak delapan opsi untuk memastikan sustainabilitas program JKN KIS tanpa membebani masyarakat melalui kenaikan iuran,” ucap Nopi hidayat dalam keterangan tertulis yang BPJS Online lansir dari CNNIndonesia.com, Selasa (26/9).


Artikel Terkait (Ada Oknum RS “Wani Piro” Kalau Mau Mendapatkan Ruang Kamar)

Namun sepertinya kok tidak elok jika kita menggunakan dana dari perusak kesehatan untuk membiayai kesehatan.


Justru menurut BPJS Online hal ini akan memicu presepsi masyarakat yang akan smakin menjadikan rokok sebagai pahlawan dan menjadi alasan kuat tetap merokok karena toh rokok yang membiayai pengobatannya.

Di awal-awal mungkin dapat menyelesaikan masalah ini namun tanpa disadari itu membuka dampak lebih besar dalam jangka panjang kedepan.

Menurut BPJS Online Itu bukan solusi yang tepat dan tentu perlu dipikirkan jauh kebelakang efeknya.

BPJS Online mendapatkan sebuah ide dari pembaca melalui email yang masuk , menurutnya yang jadi masalah saat ini ialah ketidak taatan peserta mandiri dalam pembayaran iuran.

Hal ini perlu di ubah presepsi peserta yang enggan membayar tunggakannya.

Setidaknya , menurut pembaca yang tidak mau disebutkan namanya ada beberapa type penunggak iuran yakni

Peserta yang memiliki pikiran buat apa membayar , toh saya sehat -sehat saja nanti saja kalau sakit baru membayar.

type kedua, ke’enakan yang sakit kalau saya rutin membayar iuran sementara dia yang menikmati layanan kesehatannya.

Dan yang paling fatal , mereka yang membayar pas sakit saja , namun setelah sembuh pura – pura lupa kewajibannya.

Mental – mental seperti ini yang perlu di ubah , di rangsang agar kembali mau membayar iurannya.

Menurut pembaca tersebut BPJS Kesehatan bisa mengikuti cara – cara yang dilakukan oleh bank – bank besar atau operator selular dengan sistem poin.

Dengan sistem poin , peserta yang membayar ontime akan mendapatkan poin.

Peserta yang rajin mengikuti kegiatan / even – even kesehatan seperti jalan sehat , lari bisa dapat poin.

Juga untuk mereka yang sukarela mengajak masyarakat untuk menjadi peserta BPJS Kesehatan mendapatkan point , ini semacam MLM namun bukan uang yang di dapat melainkan poin.
Menolong/membimbing peserta lain yang tidak faham prosedur BPJS mendapat tambahan poin.

Dari akumulasi poin-poin yang dikumpulkan peserta aktif tersebut bisa di tukar dengan reward/hadiah yang menarik.

Namun saran dari pembaca yang punya ide ini jangan memberi hadiah yang justru menambah beban biaya operasional , contoh saja cukup dengan reward yang diberikan.

Misal saja peserta dengan 1000 point bisa mengikuti seminar kesehatan yang di adakan BPJS Setempat dan dihadiri pejabat/artis terkenal.

Memperoleh penghargaan dari presiden sebagai peserta BPJS Kesehatan dengan poin terbanyak.

Nah tidak ada salahnya ya sobat BPJS Online ide tersebut coba di terapkan, siapa tau dengan adanya apresiasi point dan reward kepada peserta bisa menumbuhkan semangat untuk membayar iuran secara rutin dan tepat waktu.

Mereka tidak lagi merasa rugi apabila membayar iuran tepat waktu meski tidak sedang sakit.

Peserta juga diharapkan secara sukarela mau mengajak tetangga yang belum menjadi peserta untuk ikut bergabung menjadi peserta BPJS Kesehaatan dengan harapan bisa mengumpulkan poin sebanyak – banyaknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *